MASALAH ZAMAN? SOLUSI HMI!
Oleh: Moh. Makinunamien
Mahasiswa STAI Al-Khairat Pamekasan.
Proses pembaharuan tidak akan pernah berhenti, manusia
baru dan suka suatu hal yang baru, perubahan dan perkembangan dunia sangatlah
pesat, era 90-an dan era sekarang berbeda, tahun kemaren dan tahun sekarang juga
beda, manusia terus merekonstruksi apa yang dianggap janggal dan dikira kurang
baik, begitu juga dalam kelembagaan HMI, yang dituntut menjawab tantangan
zaman. Hal ini merupakan sebuah cara untuk bisa mempertahankan peran HMI
sebagai pabrik Intelektual Muslim tidak ada jalan lain kecuali lebih peka
terhadap perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi. Begitulah Lafran Pane
menuturkan. (Lihat; Hariqo wibawa satria, Lafran pane jejak hayat dan pemikirannya).
Dengan berdirinya HMI merupakan bukti nyata Lafran Pane sebagai alat
pembaharuan. HMI sebagai kader islam, bangsa, dan ummat. Wajib memerhatikan
tiga hal ini sebagai jawaban dari keadaan dan perubahan zaman.
Keislaman, ummat membutuhkan hadirya sebuah agama yang mampu
merespon permasalahan modern. Cendrung berkenaan dengan hukum baru yang tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah sehingga permasalahan tersebut harus
dirumuskan dan dibandingkan dengan masalah yang lainnya agar menghasilkan hukum
yang sempurna, Al-Qur’an kitab mujmal dan global menjawab semua
permasalahan, baik secara eksplisit maupun secara implisit yang masih butuh
hadits untuk menjabarkan. Bukan hanya saling tuduh menuduh bid’ah. Ini
merupakan tugas dari pada kader himpunan, untuk memecakan permasalahan yang
sering dianggap ringan. Sejatinya aroma pembaharuan telah jadi perbincangan pada
masa Nabi, “Sesungguhnya Tuhan akan mengutus seorang pembaharu (mujaddid) untuk
ummat Islam setiap penghujung seratus tahun supaya memperbaharui ajaran agama
mereka.” (HR. Abu Dawud, Lihat; Dr. Abd abdul salam aref, Pembaharuan pemikiran
hukum Islam). Sangat jelas bukan, Modernisasi yang ada pada sekarang HMI bisa
menyeimbangkan, islam sebagai jawaban.
Kebangsaan, kaum modernisme terus bertambah, jika islam
bisa menyeimbangkan dari titik ajaran, pola pikir, dan hukumnya. Maka integritas
bangsa akan banyak lahir dari rahim himpunan. Bangsa yang belakangan ini
diisukan terpecah belah konflik antar agama, etnis, yang lebih keras lagi arus
perpolitikan dalam negeri sangatlah kejam. Mereka yang dikenal sebagai
pancasilais justru melecehkan pancasila, penegak hukum taat UUD justru
mengobral dan melanggar, jiwa ke-bhinnika-an yang menjadi prioritas setiap
ummat perlahan digoyahkan, NKRI sebagai harga mati nampaknya lebih rendah dari
harga daging sapi. Kaum intelektual himpunan yang menjadi Harapan Masyarakat
Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan ummat berbangsa dan bernegara bukan
sekedar hanya turun jalan, tapi turun tangan ikut andil dalam sebuah parlemen
pemerintahan agar dapat mempertahankan dan mewujudkan cita-cita bangsa lebih
mudah. Lahirnya sebuah masalah bersamaan dengan solusinya, masalah bangsa
masalah kita, kesejahteraannya merupakan cita-cita.
Keummatan, HMI merupakan kader Islam, kader bangsa, kader
ummat. Kader HMI yang sukses sebagai cendiawan muslim dengan penuh ilmu
keislaman mereka menjadi tokoh islam, kader HMI yang sukses sebagai bangsawan
dan negarawan akan menjadi kandidat terbesar dalam parlemen pemerintahan,
begitupula kader HMI yang sukses sebagai ummat yang taat berbangsa dan
bernegara, taat pada aturan yang ada, akan menjadi kader ummat dari tatanan
bawah yang lebih dekat melekat dengan umat yang sebenarnya. Dalam konteks ini
mewujudkan Indonesi bersilaturahmi
dengan HMI. Dari tatanan terendah yang lebih menyentuh bangsa dengan sebuah
masalah yang tidak berujung dan terus bertambah, masalah ekonomi yang tingkat
pendapatan perkapita amat sangat rendah sehingga kemiskinan terus mendera,
bukan lagi problem pendidikan yang akhir-akhir ini merosot, banyak pengangguran
tidak terdidik sehingga tidak mendapat tempat kerja yang layak maka jangan
disalahkan dan dijadikan alasan seorang sarjana pendidikan hanya sebagai
pengayun becak atau lain sebagainya. Maka dari itu HMI sebagai kader ummat
menghadapi modernisme dengan membangun dan menghimpun SDM berkader dan
berproses menjadi kader yang multi guna untuk menghadapi kehidupan yang lebih
keras selanjutnya.