Wednesday, August 16, 2017



 
Oleh: Moh. Makinunamien
Mahasiswa STAI Al-Khairat Pamekasan.
Proses pembaharuan tidak akan pernah berhenti, manusia baru dan suka suatu hal yang baru, perubahan dan perkembangan dunia sangatlah pesat, era 90-an dan era sekarang berbeda, tahun kemaren dan tahun sekarang juga beda, manusia terus merekonstruksi apa yang dianggap janggal dan dikira kurang baik, begitu juga dalam kelembagaan HMI, yang dituntut menjawab tantangan zaman. Hal ini merupakan sebuah cara untuk bisa mempertahankan peran HMI sebagai pabrik Intelektual Muslim tidak ada jalan lain kecuali lebih peka terhadap perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi. Begitulah Lafran Pane menuturkan. (Lihat; Hariqo wibawa satria, Lafran pane jejak hayat dan pemikirannya). Dengan berdirinya HMI merupakan bukti nyata Lafran Pane sebagai alat pembaharuan. HMI sebagai kader islam, bangsa, dan ummat. Wajib memerhatikan tiga hal ini sebagai jawaban dari keadaan dan perubahan zaman.

Keislaman, ummat membutuhkan hadirya sebuah agama yang mampu merespon permasalahan modern. Cendrung berkenaan dengan hukum baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sehingga permasalahan tersebut harus dirumuskan dan dibandingkan dengan masalah yang lainnya agar menghasilkan hukum yang sempurna, Al-Qur’an kitab mujmal dan global menjawab semua permasalahan, baik secara eksplisit maupun secara implisit yang masih butuh hadits untuk menjabarkan. Bukan hanya saling tuduh menuduh bid’ah. Ini merupakan tugas dari pada kader himpunan, untuk memecakan permasalahan yang sering dianggap ringan. Sejatinya aroma pembaharuan telah jadi perbincangan pada masa Nabi, “Sesungguhnya Tuhan akan mengutus seorang pembaharu (mujaddid) untuk ummat Islam setiap penghujung seratus tahun supaya memperbaharui ajaran agama mereka.” (HR. Abu Dawud, Lihat; Dr. Abd abdul salam aref, Pembaharuan pemikiran hukum Islam). Sangat jelas bukan, Modernisasi yang ada pada sekarang HMI bisa menyeimbangkan, islam sebagai jawaban.

Kebangsaan, kaum modernisme terus bertambah, jika islam bisa menyeimbangkan dari titik ajaran, pola pikir, dan hukumnya. Maka integritas bangsa akan banyak lahir dari rahim himpunan. Bangsa yang belakangan ini diisukan terpecah belah konflik antar agama, etnis, yang lebih keras lagi arus perpolitikan dalam negeri sangatlah kejam. Mereka yang dikenal sebagai pancasilais justru melecehkan pancasila, penegak hukum taat UUD justru mengobral dan melanggar, jiwa ke-bhinnika-an yang menjadi prioritas setiap ummat perlahan digoyahkan, NKRI sebagai harga mati nampaknya lebih rendah dari harga daging sapi. Kaum intelektual himpunan yang menjadi Harapan Masyarakat Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan ummat berbangsa dan bernegara bukan sekedar hanya turun jalan, tapi turun tangan ikut andil dalam sebuah parlemen pemerintahan agar dapat mempertahankan dan mewujudkan cita-cita bangsa lebih mudah. Lahirnya sebuah masalah bersamaan dengan solusinya, masalah bangsa masalah kita, kesejahteraannya merupakan cita-cita.

Keummatan, HMI merupakan kader Islam, kader bangsa, kader ummat. Kader HMI yang sukses sebagai cendiawan muslim dengan penuh ilmu keislaman mereka menjadi tokoh islam, kader HMI yang sukses sebagai bangsawan dan negarawan akan menjadi kandidat terbesar dalam parlemen pemerintahan, begitupula kader HMI yang sukses sebagai ummat yang taat berbangsa dan bernegara, taat pada aturan yang ada, akan menjadi kader ummat dari tatanan bawah yang lebih dekat melekat dengan umat yang sebenarnya. Dalam konteks ini mewujudkan Indonesi bersilaturahmi  dengan HMI. Dari tatanan terendah yang lebih menyentuh bangsa dengan sebuah masalah yang tidak berujung dan terus bertambah, masalah ekonomi yang tingkat pendapatan perkapita amat sangat rendah sehingga kemiskinan terus mendera, bukan lagi problem pendidikan yang akhir-akhir ini merosot, banyak pengangguran tidak terdidik sehingga tidak mendapat tempat kerja yang layak maka jangan disalahkan dan dijadikan alasan seorang sarjana pendidikan hanya sebagai pengayun becak atau lain sebagainya. Maka dari itu HMI sebagai kader ummat menghadapi modernisme dengan membangun dan menghimpun SDM berkader dan berproses menjadi kader yang multi guna untuk menghadapi kehidupan yang lebih keras selanjutnya.

Dear hamba Allah . 2017 Copyright. All rights reserved. Blog Templates Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates